Benarkah AI dapat meningkatkan angka pengangguran?
Saat ini Indonesia sedang berada
pada era revolusi industri 4.0 yaitu era yang mensinergikan
aspek fisik, digital, dan biologi, seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), robotika, dan
kemampuan komputer belajar dari data (machine
learning) (Adha et al., 2020). Artificial intelligence
(AI) merupakan teknologi yang dikembangkan untuk meniru kecerdasan yang
miliki oleh makhluk hidup maupun benda mati (Ahmad Hania, 2017). AI diharapkan dapat menjadi inovasi teknologi yang memberikan
efektifitas produksi melalui tenaga mesin (Rachmadana et al.,
2022). Perkembangan ini tentunya tidak akan terlepas dari
perdebatan pro dan kontra, salah satunya adalah pendapat yang menyatakan bahwa
AI mampu menggeser tenaga manusia yang berdampak pada peningkatan pengangguran.
Pengangguran merupakan
permasalahan makro ekonomi yang dapat menyebabkan ketimpangan dan kemiskinan.
Peningkatan angka pengangguran juga akan berdampak terhadap tujuan pembangunan
berkelanjutan yang pertama yaitu “Tanpa Kemiskinan”, tujuan yang kedelapan
yaitu “Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi”, serta tujuan yang
kesepuluh yaitu “Mengurangi Ketimpangan” yang mana ketiga tujuan ini memiliki
kaitan erat dengan pengangguran. Selain itu peningkatan angka pengangguran juga
akan berdampak terhadap pendapatan serta pertumbuhan ekonomi negara (Çağda et al., 2021). Terdapat dua faktor penyebab pengangguran yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah ketidakmampuan pencari
kerja untuk memenuhi
persyaratan yang dibutuhkan pihak eksternal. Faktor eksternal adalah perusahan, Lembaga, atau
kantor yang menjadi penampung tenaga kerja (Ernst et al., 2019).
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Bordot (2022) menyatakan bahwa AI cenderung meningkatkan
pengangguran pada orang dengan tingkat pendidikan tinggi dibandingkan orang
dengan pendidikan rendah. Kemudian pabrik – pabrik yang mengikuti perkembangan zaman, nyaris tidak
membutuhkan tenaga manusia lagi, mungkin hanya tersisa tenaga-tenaga kerja yang
terampil yang dapat bekerja. Oleh karena itu, banyak tenaga kerja yang
diprediksi akan menjadi pengangguran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pekerja
perempuan memiliki risiko lebih besar dibandingkan pekerja laki – laki untuk
terdampak efek komputerisasi (Adha et al., 2020). Kemajuan teknologi yang tinggi dapat
menyebabkan pengangguran (Çağda et al., 2021). Ketika perusahaan mengotomatisasi produksi untuk meningkatkan
produktivitas dan efisiensi melalui robot atau AI maka dapat meningkatkan
pengangguran. (Rachmadana et al.,
2022).
Sumber:
Adha,
L. H., Asyhadie, Z., & Kusuma, R. (2020). Digitalisasi Industri Dan
Pengaruhnya Terhadap Ketenagakerjaan dan Hubungan Kerja Di Indonesia
Industrial. Jurnal Kompilasi Hukum, V(2), 268–298.
Ahmad Hania, A.
(2017). Mengenal Artificial Intelligence, Machine Learning, & Deep
Learning. Jurnal Teknologi Indonesia, 1(June), 1–6.
https://amt-it.com/mengenal-perbedaan-artificial-inteligence-machine-learning-deep-learning/
Bordot, F. (2022).
Artificial Intelligence, Robots and Unemployment: Evidence from OECD Countries.
Journal of Innovation Economics & Management, N° 37(1), 117–138.
https://doi.org/10.3917/jie.037.0117
Çağda, Y., Bir,
E., Endüstri, S. :, Yapay, Y., & Etkileri, Z. İ. (2021). An Old Problem in
the New Era: Effects of Artificial Intelligence to Unemployment on the Way to
Industry 5.0. Journal of Yasar University, 16(August 2020), 77–94.
Ernst, E., Merola,
R., & Samaan, D. (2019). Economics of Artificial Intelligence: Implications
for the Future of Work. IZA Journal of Labor Policy, 9(1).
https://doi.org/10.2478/izajolp-2019-0004
Rachmadana, S. L.,
Aminudin, S., & Putra, A. (2022). Dampak Artificial Intelligence
Terhadap Perkonomian. 2(2), 71–82.
Comments
Post a Comment